Pesta Demokrasi
Hari
itu Senin 9 April 2014, pesta lima tahunan untuk memilih para wakil rakyat,
baik tingkat daerah, propinsi, maupun pusat tengah berlangsung. Gegap gempita
warga memang nampak dari beberapa TPS yang dihias semenarik mungkin untuk menarik
para warga agar menggunakan hak suranya . Apalagi tahun ini juga bertepatan
dengan pesta akbar piala dunia yang akan dihelat di negara samba, Brazil. Jadi
banyak dari beberapa TPS yang dihias dengan atribut negara kontestan piala
dunia.
Tahun
ini ada 12 partai yang bertempur untuk memperebutkan suara rakyat Indonesia,
berbagai hal dilakukan oleh beberapa parpol untuk menarik simpati dari
masyarakat. Bagi parpol yang berkantong tebal, media televisi menjadi salah
satu dari berbai sarana kampanye yang dipilih, mengingat banyaknya warga di
negeri ini yang demen menonton TV.
Selain itu tentunya lebih efektif, sebab tanpa perlu kampanye dengan
teriak-teriak di lapangan, yang belum pasti banyak warga yang datang. Masih
ingat pastinya dengan beberapa parpol yan sering nongol di TV, sebut saja
Golkar dengan jargon andalannya “ padi
sudah menguning sampai kepelosok desa….”, atau NASDEM dengan “gerakan perubahan”, tidak ketinggalan
partai Demokrat dengan SBY sebagai
bintang iklannya dan jargon andalannya “ coblos
nomor tujuh partai Demokrat”. Semua itu dilakukan untuk menarik simapati
dari masyarakat. Berbagai media konvensionalpun masih juga digunakan, seperti
memasang spanduk, baliho, mmt, ataupun selebaran . Sosialisasi lewat
media-media tersebut memang mutlak dilakukan, sebab dari situlah masyarakat
akan tahu siapa saja calon-calon yang nantinya akan mereka pilih.
Hajatan
besar ini cukup menyita perhatian beberapa kalangan, mulai dari insan media,
pejabat, maupun rakyat itu sendiri. Dari satu menit berada didalam bilik suara
itulah, nantinya nasib rakyat Indonesia dipertaruhkan untuk lima tahun kedepan, jadi sudah barang tentu rakyat akan
selektif sekali untuk memeberikan suaranya. Jangan sampai rakyat hanya menjadi
batu loncatan bagi beberapa caleg agar bisa duduk enak di tempat yang
serba nyaman. Dari para caleg inilah,
aspirasi rakyat diemban, namun perlu diingat, bahwa tidak cukup hanya dengan
mengemban aspirasi, yang paling penting adalah tindak lanjut dari aspirasi
tersebut.
Beberapa
dari parpol bahkan sudah mempunyai gambaran tentang calon presiden yang
nantinya akan diusung, ambil contoh PDIP dengan bangganya mengusung Jokowi,
Prabowo siap untuk diorbitkan melalui partai Geerindra, atau partai yang dahulu
pernah Berjaya diera orde baru dengan ARB sebagai capresnya. Yang sedikit
menggelitik adalah PKB, Muhaimin Iskandar selaku ketua umum, dengan berani
mencalonkan sang raja dangdut Rhoma Irama, entah apa yang ada dibenak ketum PKB
ini sehingga mecalonkan Rhoma Irama. Sudah menjadi rahasia umum kalau raja
dangdut ini sama sekali tidak mempunyai latar belakang sebagai politikus,
ditambah lagi dengan aksi poligaminya beberapa tahun silam yang cukup membuat
para penggemarnya menjadi berang. Namun hal itu pastinya sudah ada
hitung-hitungannya dari para pengurus partai berlambangkan bumi ini.
Skenario
diatas bisa saja menjadi berantakan jika saja pada pileg kali ini para parpol
yang sudah menetukan capresnya tidak bisa mendapatkan total suara minimal 20%,
kalau hal itu terjadi maka koalisilah yang menjadi jalan kedua dengan
konsekuensi para parpol tersebut belum tentu bisa mencalonkan capres sesuai skenario
awal. Namun para parpol ini pastinya
tidak akan tinggal diam, mesin-mesin politik sudah barang tentu dipersiapkan
sampai kepelosok desa agar target 20% suara
bisa terwujud.
PDIP
sebagia salah satu parpol yang sudah terang-terangan menunjuk Jokowi sebagai
kandidat capresnya, akan berjuang mati-matian supaya pileg kali ini bisa meraup
suara minimal 20%, agar jalan Jokowo untuk maju sebagai capres tahun ini bisa
berjalan dengan lancar. Ketum PDIP yang juga anak dari presiden pertama
dinegeri ini, yaitu Megawati Soekaro Putri sangat mengerti dengan kedaan yang
ada sekarang . Berbagai hasil surfei yang menempatkan Jokowi dinomor urutan
satu sebagai capres yang paling diinginkan oleh rakyat menjadi momentum yang
tidak akan di lewatkan oleh parpol bergambar moncong putih. Di sisi lain, ada
beberapa masyarakat yang masih menyangsikan kinerja dari Jokowi, sebab menurut
mereka terlalu dini untuk menilai bahwa Jokowi merupakan sosok yang tepat untuk
menjadi solusi akan krisis pemimpin di
negeri tercinta ini, bagi mereka yang kuraang setuju dengan pencalonan Jokowi
sebagai pilpres, menurutnya lebih baik Jokowi menyelesaiakan amantanya terlebih
dahulu sebagai gubernur Jakarta
sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwa Jokowi tidak hanya jago
dikandang(Solo).
Menarik
memang mengikuti perkembangan dua perhelatan besar di negeri ini, baik pileg
maupun pilpres nantinya masyarakatlah yang akan terkena imbasnya langsung. Oleh
karena itu seyogyanya orientasi perang pileg maupun pilpres dijadikan sebagai
ajang untuk mencari dan menyaring pemimpin yang benar-benar berintegritas dan
bisa membawa negeri ini kearah sila ke-lima dari butir pancasila yang berbunyi
“keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia”.