Kamis, 05 November 2015

Kontrak Sosial

Kontrak Sosial menurut  Jean Jaques Russou : Kita menyerahkan kehendak  pribadi dibawah kehendak atau supremasi kehendak umum, dan kita menerima tiap anggota sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan. Penyatuan seperti ini menciptakan sebuah lembaga kolektif, yang disebut “Negara” bila pasif, “Penguasa” bila aktif, dan “Kekuasaan” bila dalam kaitannya dengan lembaga yang serupa (Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat:909).
Dinyatakan pula bahwa penguasa tidak perlu memberikan jaminan kepada masyarakat, sebab penguasa atau pemerintahan terbentuk dari individu-individu atau simplenya terbentuk dari bagian masyarakat. Jadi apa yang akan dilakukan oleh penguasa sudah pasti sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, tidak akan bertentangan dengan kepentingan mereka (Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat:910).
Kehendak penguasa akan selalu bernilai benar, sebab merupakan kehendak umum, masyarakat juga diharuskan untuk turut andil dalam kehendak umum. Namun masyarakat yang juga selaku sebagai individu sudah barang tentu memiliki kehendak pribadi yang kadang kala berlainan dengan kehendak umum. Dalam kasus seperti ini Kontrak Sosial memaikan peranannya untuk memaksakan kehendak umum kepada individu yang enggan untuk  mematuhinya.
Namun menurut saya,  kehendak penguasa tidak selalu bernilai benar, sebab penguasa sendiri merupakan bagian individu yang tentu juga memiliki kehendk pribadi. Melalui kekuasaan ini, seorang penguasa terkadang menyodorkan kehendak pribadinya kepada masyarakat dalam bungkus kehendak umum, sehingga ketika masyarakat menerima kehendak tersebut tanpa pertimbangan apapun, maka yang akan terjadi penyalahgunaan kekuasaan, seperti nampak pada era  orde baru.
Penguasa yang seperti Orde baru berarti telah keliru dalam memakai istilah Kehendak Umum, karena salah satu poin didalamnya telah dimutasi. Poin tersebut ialah “masyarakat diharuskan untuk ikut serta dalam kehendak umum”, namun kenyatannya pada masa Orba masyarakat sama sekali tidak diperbolehkan untuk ikut serta didalam mewujudkan kehendak umum. Kebebasan untuk menyuarakan pendapat dipasung pada waktu itu, jadi pemerintahan hanya berjalan satu arah dengan kemudi penguasa, masyarakat yang seharusnya juga diberi tempat untuk mengatur kemudi sama sekali tidak diberi kesempatan.

Sehingga sudah bisa ditebak akhir dari jalan ceritanya, kalau penguasa tidak bisa memenuhi apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sebagai negara yang baru merdeka, seharusnya pemerintah pada saat itu menyiapkan bibit bangsa untuk masa depan, agar generasi  yang akan datang bisa mengelola sendiri kekayaan bumi pertiwi, sehingga kata Merdeka benar-benar akan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat dinegeri ini. Namun yang terjadi justru Pemerintah pada saat itu kembali mengundang para penjajah yang telah berransformasi bentuk untuk kembali membelenggu bangsa ini. berbagai aspek vital dinegeri ini  seperti sumber daya alam, oleh pemerintah ditukar kepada penjajah dalam bentuk lembaran dolar yang hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Selasa, 04 November 2014

Negeri sarang Laba-laba


            Sebagai salah satu bagian dari keluarga athropoda, hewan yang menjadi ikon dari film Spiderman ini memiliki keunikan tersendiri. Ya, mungkin diantara kalian sudah pada tahu  apa keunikan dari hewan yang satu ini. Kemampuan untuk memproduksi sekaligus digunakan untuk proteksi diri dari serangan para predatornya,  biasa disebut dengan jaring laba-laba. Selain dipakai untuk melindungi dirinya dari serangan para predator, jaring ini digunakan juga untuk menjebaak para mangsanya, yang sebagaian besar berupa  serangga bertubuh kecil. Ketika jaring ini dilewati oleh jenis serangga kecil seperti kupu-kupu ataupun jangkrik, maka tamatlah sudah riwayat hidupnya. Namun hal ini sama sekali tidak berlaku apabila yang lewat adalah burung, jangankan terperangkap, jaringnya tidak rusak saja itu sudah hal yang luar biasa, seringnya jaring akan rusak sebab tidak kuat menahan laju dari burung.
            Hal diatas mirip sekali denagn hukum yang berlaku di negeri yang kita cintai ini, ketika di televis disiarkan seorang nenek tua dipergoki mencuri sebutir buah kakao yang sebenarnya sudah jatuh dari pohonnya, tanpa pandang bulu pihak yang beerwajib mau-maunya memproses kasus ini sampai kemeja hijau, dalam konteks ini saya bukan berarti mensahihkan tindakan dari sang nenek, namun hendaknya dalam kaus seperti itu skala kebijaksanaan haruslah menjadi landasan utama untuk meengambil kepustusan hukum dari perbuatan yang telah dilakukan oleh sang nenek. Berapa harga sebuah biji kakao dibandingkan dengan hukuman yang ditimpakan kepada sang nenek  ? sudah barang tentu kalian semua pasti tidak sepakat dengan vonis hukuman penjara yang ditimpakan kepada sang nenek.
            Beda ceritanya ketika yang menerjang sarang laba-laba itu adalah seorang yang berduit ataupun pejabat pemerintahan, membayangkan bahwa sarang laba-laba akan hancur saja sedikitpun tidak terlintas dibenak ini, justru yang terjadi adalah burung  terbang dengan santai tanpa rasa bersalah melanjutkan perjalanannya. Ya benar sekali, nasib sarang laba-laba tadi sudah barang tentu rusak tertabrak burung yang lewat.
            Pasti ingatan kita semua masih segar dengan kasus Artalita Suryani yang tersadung kasus suap terhadap jaksa urip, pengadilan memang berhasil menjebloskannya kedalam jeruji besi, namun apa yang terjadi dengan Artalyta ketika berada didalam penjara ? berdesak-desakan dengan napi lain didalam sel yang sempit ? tubuh yang tidak lagi terurus atau mungkin bayangan suram lain seperti napi-napi pada umumnya ? jangankan berdesak-desakan, satu sel ternyata hanya dihuni oleh seorang Artalyta, ditambah kamar barunya itu dilengkapi dengan ruang karaoke, Kasur yang nyaman dan juga televisi, yang intinya sama sekali tidak mnyiratkan sebuah sel penjara, justru yang nampak adalah sekelas kamar bintang lima.

            Baik sang nenek maupun artalyta sebenarnya sama-samaa warga Indonesia yang seharusnya mendapatkan perlakuan sama dihadapan hukum , namun sang nenek ibarat kupu-kupu yang menabrak sarang labaa-laba, tanpa daya dan upaya terjebak bahkan menjadi santapan empuk bagi laba-laba. Lain halnya dengan artalyta yang bisa dianalogikan sebagai burung, walaupun didepannya ada sarang laba-laba, namun dengan kekutan yang dimilikinya dia bisa melewati sarang tersebut. Hukum dinegeri ini memang sering kali dikebiri oleh orang-orang seperti Artalyta, pemerintah yang seharusnya bisa terlihat berwibawa didepan rakyatnya sendiri, justru nampak hina dan mlempem. Maka jangan heran ketika negeri sekecil Singapura atau tetangga kita yang rewel, Malaysia, sering secara terang-teerangan menginjak-injak harkat dan martabat bumi pertiwi. 

Jumat, 12 September 2014


Berbicara merupakan kegiatan yang telah dilakukan oleh manusia sejak zaman dahulu bahkan sejak pertama kali manusia pertama diturunkan dibumi ini, dari kegiatan berbicara juga yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Walaupun secara lahiriah manusia sudah dibekali kemampuan berbicra, namun tidak semua bisa menggunakannya dengan baik dan benar kemampuain ini, sebab diperlukan pembelajaran agar kemampuan ini bisa digunakan secara maksimal.
            Banyak orang yang memiliki gagasan ataupun ide hebat, namun mereka ini sulit untuk bisa mengungkapkannya, terlebih ketika harus menjelaskannya didepan orang banyak.  Dalam hal ini kecakapan berbicra setiap individu diperlukan agar ide atau gagasan tersebut bisa dengan jelas dan mudah dipahami oleh semua orang, maka diperlukan sebuah ilmu yang bisa menunjang kegiatan berbicara terlebih berbicara didepan umum.
            Retorika, sebuah ilmu bertutur yang oleh salah satu ahli yaitu Hendrikus diartikan sebagai seni berbicara baik, yang dipergunakan didalam berkomunikasi antar manusia. Beberapa orang didalam masyrakat perlu untuk mendalami ilmu yang satu ini, seperti seorang pemimpin. Ya, pemimpin apapun didalam sebuah masyarakat haruslah mempunyai kecakapan didalam bertutur, sebab untuk mengatur sebuah masyarakaat diperlukan kemampuan bertutur yang bersifat  persuasif  tanpa masyarakatnya sendiri  merasa dipaksa.

            Banyak manfaat yang bisa diperoleh ketika mendalami disiplin ilmu yang satu ini,  terkhusus ketika berada ditengah-tengah masyarakat, sebab akan mudah sekali timbul sebuah masalah  ketika  gagasan ataupun ide kita salah diartikan oleh masyarakat.Maka diperlukan sebuah kemampuan berbicara yang bagus agar yang ingin kita sampaikan kepada masyarakat bisa dipahami dan diterima dengan baik, dan semua itu akan bermuara pada terjalinnya sebuah hubungan yang harmonis didalam sebuah  masyarakat. 

         MICARA


             Berbicara merupakan kegiatan yang telah dilakukan oleh manusia sejak zaman dahulu bahkan sejak pertama kali manusia pertama diturunkan dibumi ini, dari kegiatan berbicara juga yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Walaupun secara lahiriah manusia sudah dibekali kemampuan berbicra, namun tidak semua bisa menggunakannya dengan baik dan benar kemampuain ini, sebab diperlukan pembelajaran agar kemampuan ini bisa digunakan secara maksimal.
            Banyak orang yang memiliki gagasan ataupun ide hebat, namun mereka ini sulit untuk bisa mengungkapkannya, terlebih ketika harus menjelaskannya didepan orang banyak.  Dalam hal ini kecakapan berbicra setiap individu diperlukan agar ide atau gagasan tersebut bisa dengan jelas dan mudah dipahami oleh semua orang, maka diperlukan sebuah ilmu yang bisa menunjang kegiatan berbicara terlebih berbicara didepan umum.
            Retorika, sebuah ilmu bertutur yang oleh salah satu ahli yaitu Hendrikus diartikan sebagai seni berbicara baik, yang dipergunakan didalam berkomunikasi antar manusia. Beberapa orang didalam masyrakat perlu untuk mendalami ilmu yang satu ini, seperti seorang pemimpin. Ya, pemimpin apapun didalam sebuah masyarakat haruslah mempunyai kecakapan didalam bertutur, sebab untuk mengatur sebuah masyarakaat diperlukan kemampuan bertutur yang bersifat  persuasif  tanpa masyarakatnya sendiri  merasa dipaksa.

            Banyak manfaat yang bisa diperoleh ketika mendalami disiplin ilmu yang satu ini,  terkhusus ketika berada ditengah-tengah masyarakat, sebab akan mudah sekali timbul sebuah masalah  ketika  gagasan ataupun ide kita salah diartikan oleh masyarakat.Maka diperlukan sebuah kemampuan berbicara yang bagus agar yang ingin kita sampaikan kepada masyarakat bisa dipahami dan diterima dengan baik, dan semua itu akan bermuara pada terjalinnya sebuah hubungan yang harmonis didalam sebuah  masyarakat. 

Senin, 05 Mei 2014

solo ngangeni


BUKAN SEKOLAH PENCETAK PREMAN
            Benang kusut dunia pendidikan di negeri ini belum juga bisa terurai, ibu pertiwi masih harus menyeka air mata dengan kesedihan. Renggo Khadaafi siswa kelas lima SD Negeri 09 Makassar, Jakarta timur harus meregang nyawa ditangan para seniornya. Masalahnya sepele, hanya gara-gara menumpahkan es seharga Rp 1000 tanpa sengaja, Renggo harus membayar mahal dengan membarter nyawanya. Keluarga dari korban menjerit, apa yang sebenarnya terjadi dengan Renggo di sekolahan, rasa aman yang harusnya didapat oleh siswa justru berbalik menjadi bomerang.
            Kasus ini mengingatkan kembali  dengan beberapa catatan hitam dunia pendidikan di negeri ini, sebelumya penganiayaan senior kepadaa juniornya juga terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelaayaran Cilincing, Jakarta Utara. Dimas Dikita Handoko (19) tewas ditangan seniornya setelah di hajar di kamar kos seniornya . Motif kekerasan kali ini juga sepele, menurut para pelaku, korban tidak hormat kepada para seniornya.
            Kasus-kasus seperti ini mungkin akan kembali terulang apabila pemerintah dalam hal  ini kemendikbud tidak segera bertindak, pasalnya, jiwa premanisme masih mengakar pada diri beberpa siswa di negeri ini, hal itu mengakibatkan setiap pengambilan penyelesaian selalu mengutamakan jalan kekerasan. Senioritas masih diartikan sebagai penghormatan mutlak seorang junior kepada seniornya.
            Harus ada tindakan tegas dari mendikbud kepada setiap pelaku kekerasan didalam lingkungan sekolahan, sebab apabila hal itu dibiarkan terus menerus  maka akan menjadi lingkaraan setan yang tidak adaa ujung penyelesainnya. Sanksi kepada sekolahan yang terkait dengan kekerasan dalam bentuk pencabutaan izin, ataupun penutupan sementara mungkin bisa menjadi solusi alternatif untuk diterapkan. Kepada siswa yang benar terbukti melakukan tindak kekerasan, harus diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut, pemberian sanksi berupa pengeluaran dari sekolah juga bisa dilakukan.
            Namun yang paling penting dalam kasus seperti ini ialah usaha maupun pendekatan preventif, sanksi yang telah disebutkan diatas tadi akan sia-sia belaka apabila kasus kekerasan kedepannya masih saja terjadi. Oleh karena itu pihak sekolah seyogyanya memberikan pemahaman kepada paraa siswanya bahwa senioritas bukanlah suatu bentuk jabatan  legal untuk melakukan kekerasan kepada para juniornya, namun senioritaas merupakan bentuk hormat seorang junior kepada seniornya, hal itu berimbas pula kepadaa senior yang harus menyayangi dan mengayomi para juniornya. Peran sekolah dan instrumen pendukung lainnya mutlak diperlukan untuk membangun ilkim pendidikan yang lebih berorientasi pada pencetakan siswa yang cerdas, berkarakter dan berkontribusi untuk kemajuan bangsa ini. Sekali lagi institusi sekolah bukanlah ajang untk mencetak para kawula muda berjiwa preman.

Selasa, 15 April 2014

bukan kompas, blog pun jadi

BM ku sayang BM ku malang
Sudah sekian kalinya beasiswa bidikmisi(bm) mengalami keterlambatan turunnya. Untuk tahun ini saja di kampusku yang sudah memulai perkuliahan dari tanggal 15 Februari 2014, baru turun bidikmisi tersebut tanggal 27 Maret 2014. Jadi, kira-kira keterlambatan tersebut  sekitar satu setengah bulan dari hari pertama masuk kuliah. Bahkan pada tahun pertama masuk kuliah, keterlambatan  bisa sampai 5 bulan.
Padahal, kebanyakan penerima bidikmisi adalah para mahasiswa dari keluarga golongan ekonomi menengah kebawah. Dengan seringnya terjadi keterlambaatan tersebut mau tidak mau para penerima beasiswa harus mencari alternatif lain untuk biaya hidup selama bm itu belum turun. Kebanyakan dari mereka termasuk aku sendiri, meminta kiriman dari orang tua untuk membiayai segala keperluaan kuliah sebelum bm turun.
Walaupun bm itu tergolong beasiswa yang sudah tentunya gratis, tapi bukan berarti pemerintah bisa seenaknya sendiri dalaam proses pencairannya. Disini banyak mahasiswa kurang mampu yang menggantungkan hidupnya dari bm.

Rabu, 09 April 2014



Pesta Demokrasi
Hari itu Senin 9 April 2014, pesta lima tahunan untuk memilih para wakil rakyat, baik tingkat daerah, propinsi, maupun pusat tengah berlangsung. Gegap gempita warga memang nampak dari beberapa TPS yang dihias semenarik mungkin untuk menarik para warga agar menggunakan hak suranya . Apalagi tahun ini juga bertepatan dengan pesta akbar piala dunia yang akan dihelat di negara samba, Brazil. Jadi banyak dari beberapa TPS yang dihias dengan atribut negara kontestan piala dunia.
Tahun ini ada 12 partai yang bertempur untuk memperebutkan suara rakyat Indonesia, berbagai hal dilakukan oleh beberapa parpol untuk menarik simpati dari masyarakat. Bagi parpol yang berkantong tebal, media televisi menjadi salah satu dari berbai sarana kampanye yang dipilih, mengingat banyaknya warga di negeri ini yang demen menonton TV. Selain itu tentunya lebih efektif, sebab tanpa perlu kampanye dengan teriak-teriak di lapangan, yang belum pasti banyak warga yang datang. Masih ingat pastinya dengan beberapa parpol yan sering nongol di TV, sebut saja Golkar dengan jargon andalannya “ padi sudah menguning sampai kepelosok desa….”, atau NASDEM dengan “gerakan perubahan”, tidak ketinggalan partai Demokrat dengan  SBY sebagai bintang iklannya dan jargon andalannya “ coblos nomor tujuh partai Demokrat”. Semua itu dilakukan untuk menarik simapati dari masyarakat. Berbagai media konvensionalpun masih juga digunakan, seperti memasang spanduk, baliho, mmt, ataupun selebaran . Sosialisasi lewat media-media tersebut memang mutlak dilakukan, sebab dari situlah masyarakat akan tahu siapa saja calon-calon yang nantinya akan mereka pilih.
Hajatan besar ini cukup menyita perhatian beberapa kalangan, mulai dari insan media, pejabat, maupun rakyat itu sendiri. Dari satu menit berada didalam bilik suara itulah, nantinya nasib rakyat Indonesia dipertaruhkan untuk lima tahun  kedepan, jadi sudah barang tentu rakyat akan selektif sekali untuk memeberikan suaranya. Jangan sampai rakyat hanya menjadi batu loncatan bagi beberapa caleg agar bisa duduk enak di tempat yang serba  nyaman. Dari para caleg inilah, aspirasi rakyat diemban, namun perlu diingat, bahwa tidak cukup hanya dengan mengemban aspirasi, yang paling penting adalah tindak lanjut dari aspirasi tersebut.
Beberapa dari parpol bahkan sudah mempunyai gambaran tentang calon presiden yang nantinya akan diusung, ambil contoh PDIP dengan bangganya mengusung Jokowi, Prabowo siap untuk diorbitkan melalui partai Geerindra, atau partai yang dahulu pernah Berjaya diera orde baru dengan ARB sebagai capresnya. Yang sedikit menggelitik adalah PKB, Muhaimin Iskandar selaku ketua umum, dengan berani mencalonkan sang raja dangdut Rhoma Irama, entah apa yang ada dibenak ketum PKB ini sehingga mecalonkan Rhoma Irama. Sudah menjadi rahasia umum kalau raja dangdut ini sama sekali tidak mempunyai latar belakang sebagai politikus, ditambah lagi dengan aksi poligaminya beberapa tahun silam yang cukup membuat para penggemarnya menjadi berang. Namun hal itu pastinya sudah ada hitung-hitungannya dari para pengurus partai berlambangkan bumi ini.
Skenario diatas bisa saja menjadi berantakan jika saja pada pileg kali ini para parpol yang sudah menetukan capresnya tidak bisa mendapatkan total suara minimal 20%, kalau hal itu terjadi maka koalisilah yang menjadi jalan kedua dengan konsekuensi para parpol tersebut belum tentu bisa mencalonkan capres sesuai skenario awal. Namun para parpol ini  pastinya tidak akan tinggal diam, mesin-mesin politik sudah barang tentu dipersiapkan sampai kepelosok desa agar target 20% suara   bisa terwujud.
PDIP sebagia salah satu parpol yang sudah terang-terangan menunjuk Jokowi sebagai kandidat capresnya, akan berjuang mati-matian supaya pileg kali ini bisa meraup suara minimal 20%, agar jalan Jokowo untuk maju sebagai capres tahun ini bisa berjalan dengan lancar. Ketum PDIP yang juga anak dari presiden pertama dinegeri ini, yaitu Megawati Soekaro Putri sangat mengerti dengan kedaan yang ada sekarang . Berbagai hasil surfei yang menempatkan Jokowi dinomor urutan satu sebagai capres yang paling diinginkan oleh rakyat menjadi momentum yang tidak akan di lewatkan oleh parpol bergambar moncong putih. Di sisi lain, ada beberapa masyarakat yang masih menyangsikan kinerja dari Jokowi, sebab menurut mereka terlalu dini untuk menilai bahwa Jokowi merupakan sosok yang tepat untuk menjadi solusi akan  krisis pemimpin di negeri tercinta ini, bagi mereka yang kuraang setuju dengan pencalonan Jokowi sebagai pilpres, menurutnya lebih baik Jokowi menyelesaiakan amantanya terlebih dahulu  sebagai gubernur Jakarta sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwa Jokowi tidak hanya jago dikandang(Solo).
Menarik memang mengikuti perkembangan dua perhelatan besar di negeri ini, baik pileg maupun pilpres nantinya masyarakatlah yang akan terkena imbasnya langsung. Oleh karena itu seyogyanya orientasi perang pileg maupun pilpres dijadikan sebagai ajang untuk mencari dan menyaring pemimpin yang benar-benar berintegritas dan bisa membawa negeri ini kearah sila ke-lima dari butir pancasila yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.