Sinopsis
film MY WAY
Pengarah : Kang Je-Kyu
Pemain : Jang Dong-Gun, Odagiri Joe, Fan Bingbing, Kim In Kwon, Han Seung
Hyun , Do Ji Han & Lee Yeon Hee
Penulis skrip : Kang Je-Kyu & Kim Byung-in
Penerbit Eksekutif : Miky Lee, So Jin-Woo & Mu Xiao Guang
Genre : Aksi / Perang
Bahasa : Korea / Jepun / China / Rusia / Jerman (Sari kata Bahasa Inggeris)
Klasifikasi : 18 PL
Durasi : 143 minit
Terbitan : Directors Production
Jun-Shik
yang diperankan oleh JANG Dong-Gun adalah seorang pelari amatir dari desa
Kyung-Sung Korea. Hidupnya berubah ketika dia mengikuti olimpiade lari, pada
perlombaan tersebut dia bertemu dengan pelari handal dari negara yang sedang
menjajah negaranya. Tatsuo yang diperankan oleh Joe Odagiri merupakan teman
berlari Jun-Shik sewaktu kecil dan sekarang mereka bertemu lagi diperlombaan
lari yang sangat bergengsi. Perlombaan lari tersebut sangat berarti bagi kedua
tokoh ini.Sebab bagi Jun-Shik kemenangan yang dapat diraihnya akan memberi
kebahagian bagi segenap warrga Korea yang pada saat itu sangat menderita karena
sedang dijajah oleh Jepang. Sebaliknya kemenangan di kubu Jepang yang di wakili
Tatsuo akan semakin mengukuhkan hegemoni negeri matahari terbit terhadap Korea.
Ternyata keberuntungan lebih memihak Jun-Shik, dia berhasil mempecundangi
Tatsuo dan sekaligus Jepang. Namun Jepang tidak mengakui kemenangan Jun-Shik
dan memberikan kemenangan kepada Tatsuo. Hal itu menyulut kemarahan para warga
Korea yang hadir pada perlombaan itu, akhirnya perkelahianpun tidak dapat
dihindarkan. Pengadilan Jepang menghukum semua warga Korea yang ikut dalam
perkelahian tersebut termasuk Jun-Shik, mereka semua dipaksa menjadi tentara
kekaisaran Jepang.
Tidak
di sangka pemimpin pasukan kekaisaran tesrsebut adalah Tatsuo yang notabene
adalah rival lari Jun-Shik. Tatsuo mempunyai prinsip dalam setiap
pertempurannya bahwa pasukan kekaisaran harus berani bertarung dan rela mati
demi kaisar. Namun kekalahan demi kekalahan yang diderita oleh Jepang dari para
musuh-musuhnya memaksa Tatsuo, Jun-Shik dan seluruh tentara kekaisaran menjadi
tawanan perang dan konsekuensinya mereka harus ikut berperang membantu negara
yang menawan mereka.
Dendam
pribadi diantara Jun-Shik dan Tatsuo lambat laun mulai hilang, mereka berdua
berjanji tidak akan mati sebelum kembali
ke tanah airnya masing-masing. Namun peperangan terakhir melawan Jerman ketika
mereka menjadi tentara tawanan Prancis memaksa
Jun-shik mengubur mimpinya untuk bisa
kembali ke tanah airnya, sebab di peperangan kali ini dia tewas tertembak
peluru pasukan Jerman. Sebelum meninggal dia menyuruh Tatsuo untuk mengganti
identitasnya menjadi Jun-Shik, sebab dengan identitas Jun-Shik, Tatsuo akan
bisa lolos dari tawanan Jerman untuk
bisa kembali kenegaranya.
Nilai budaya ataupun kearifan local yang ada pada film MY
WAY
Salah
satu hal menarik dari film My Way ini adalah semangat ala prajurit Jepang dalam
bertarung melawan musuh-musuhnya, atau yang biasa disebut dengan BUSHIDO.
Bushido sendiri adalah kode etik kepahlawanan samurai yang berkembang pada masa
feodal Jepang (abad 12-19). Dimana pada abad-abad itu wilayah Jepang terbagi
menjadi beberapa negara/wilayah bagian yang dipimpin oleh seorang tuan tanah
atau sering disebut dengan DAIMYO,
sedangkan samurai itu sendiri adalah pengawal daimyo dan juga penjaga wilayah
yang dikuasai oleh tuan tanahnya. Para samurai dididik untuk selalu patuh dan
juga rela mati untuk menjaga kehormatan tuan tanahnya. Puncak dari zaman
samurai adalah ketika kekuasaan Shogun Tokugawa, shogun sendiri adalah pemimpin
dari samurai.
Bushido
berasal dari dua kata, yaitu bushi yang berarti “ksatria” dan do “jalan”.
Secara sederhana bushido berarti jalan yang harus ditempuh oleh seorang ksatria
untuk menyempurnakan hidupnya. Makna dari bushido itu sendiri merupakan sikap
rela mati untuk kaisar atau negara. Pada zaman feudal pengelompokkan terhadap
masyarakat diperlakukan dengan sanagt ketat, dimana bushi/ksatria menempati
posisi tertinggi sehingga sangat dihormati dan juga ditakuti oleh masyarakat,apalagi
ketika Shogun Tokugawa berkuasa saat diterapkannya polotik sokaku(penutupan
diri) dari dunia luar. Saat itulah bushido disusun dalam bentuk etika,
diterapkan dengan ketat, dan diajarkan kepada masyarakat luas. Kode etik
bushido mengendalikan setiap aspek kehidupan seorang samurai. Mereka harus
mengembangkan keahlian dalam bidang menggunakan pedang atau senjata lainnya,
berpakaian dan berlaku secara khusus,
tentunya berrsedia mati kapan saja untuk kaisar atau negara, itu semua
dilakukan sebagai standar tinggi dalam menjalani hidup. Meski perubahan
besar-besaran terjadi pada masa Meiji, ketika banyak para generasi muda dari
negara sakura dikirim ke Eropa maupun Amerika untuk menimba ilmu, namun
nilai-nilai semacam ini tetap melekat pada diri setiap orang Jepang sebab sudah
terinternalisasi selama proses ratusan tahun.
Selain bushido,dalam film yang
mengangkat alur peperangan ini, ada satu lagi nilai localwisdom dari Jepang,
yaitu seppuku. Seppuku merupakan salah satu adat para samurai, terutama jenderal perang pada
zaman bakufu yang merobek perut mereka dan mengeluarkan usus mereka
agar dapat memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas. Seppuku lebih dikenal dengan istilah harakiri (“merobek
perut”) yang juga ditulis dengan huruf kanji sebagaimana penulisan pada seppuku. Pada tradisi
Jepang, istilah seppuku lebih formal. Harakiri merupakan istilah yang secara
umum dikenal dalam bahasa Inggris, dan sering kali disalah-tuliskan
dengan “hari kari”.
Kebanyakan orang mengetahui harakiri
sebagai “cara” bunuh diri ala Jepang saja. Namun di balik pengertian umum
tersebut, sebenarnya Harakiri mempunyai sejarah panjang dan makna yang dalam.
Secara harfiah harakiri berasal dari dua suku kata, yakni hara dan kiri. Kata
hara berarti perut dan kiri berarti potong. Harakiri disebut juga dengan
seppuku. Harakiri merupakan bagian dari bushido, yaitu kode etik seorang
samurai (prajurit) yang digunakan ketika kalah berperang, untuk menghindari
jatuh ke tangan musuh, dan menghindari rasa malu karena kalah, serta sebagai
wujud kesetiaan kepada daimsyo. Daimsyo ini merupakan sebutan tuan tanah di
Jepang.
Tidak diketahui secara pasti kapan dan siapa yang melakukan
Harakiri untuk pertamakalinya. Namun ada suatu kisah yang cukup menarik untuk
diangkat dalam sejarah perjalanan harakiri di Jepang. Ini adalah kisah seorang
samurai, Saigo Takamori, yang hidup pada zaman edo akhir mendekati era Meiji
(1827-1877). Saigo Takamori adalah pemimpin pemberontakan terhadap
pemerintahan. Dalam perperangan yang dikenal dengan pemberontakan setsuma,
Saigo yang kalah dalam pergolakan akhirnya menghabisi hidupnya dengan cara
harakiri. Metode harakiri umumnya dilakukan oleh seorang samurai dengan
menancapkan pedang pada perut yang sudah diikatkan seutas kain, lalu pedang
ditarik dari kiri ke kanan, seperti gerakan merobek.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar