Selasa, 26 November 2013



Sinopsis film MY WAY

Pengarah : Kang Je-Kyu
Pemain    : Jang Dong-Gun, Odagiri Joe, Fan Bingbing, Kim In Kwon, Han Seung
Hyun , Do Ji Han & Lee Yeon Hee
Penulis skrip : Kang Je-Kyu & Kim Byung-in
Penerbit Eksekutif : Miky Lee, So Jin-Woo & Mu Xiao Guang
Genre : Aksi / Perang
Bahasa : Korea / Jepun / China / Rusia / Jerman (Sari kata Bahasa Inggeris)
Klasifikasi : 18 PL
Durasi : 143 minit
Terbitan : Directors Production

Jun-Shik yang diperankan oleh JANG Dong-Gun adalah seorang pelari amatir dari desa Kyung-Sung Korea. Hidupnya berubah ketika dia mengikuti olimpiade lari, pada perlombaan tersebut dia bertemu dengan pelari handal dari negara yang sedang menjajah negaranya. Tatsuo yang diperankan oleh Joe Odagiri merupakan teman berlari Jun-Shik sewaktu kecil dan sekarang mereka bertemu lagi diperlombaan lari yang sangat bergengsi. Perlombaan lari tersebut sangat berarti bagi kedua tokoh ini.Sebab bagi Jun-Shik kemenangan yang dapat diraihnya akan memberi kebahagian bagi segenap warrga Korea yang pada saat itu sangat menderita karena sedang dijajah oleh Jepang. Sebaliknya kemenangan di kubu Jepang yang di wakili Tatsuo akan semakin mengukuhkan hegemoni negeri matahari terbit terhadap Korea. Ternyata keberuntungan lebih memihak Jun-Shik, dia berhasil mempecundangi Tatsuo dan sekaligus Jepang. Namun Jepang tidak mengakui kemenangan Jun-Shik dan memberikan kemenangan kepada Tatsuo. Hal itu menyulut kemarahan para warga Korea yang hadir pada perlombaan itu, akhirnya perkelahianpun tidak dapat dihindarkan. Pengadilan Jepang menghukum semua warga Korea yang ikut dalam perkelahian tersebut termasuk Jun-Shik, mereka semua dipaksa menjadi tentara kekaisaran Jepang.
Tidak di sangka pemimpin pasukan kekaisaran tesrsebut adalah Tatsuo yang notabene adalah rival lari Jun-Shik. Tatsuo mempunyai prinsip dalam setiap pertempurannya bahwa pasukan kekaisaran harus berani bertarung dan rela mati demi kaisar. Namun kekalahan demi kekalahan yang diderita oleh Jepang dari para musuh-musuhnya memaksa Tatsuo, Jun-Shik dan seluruh tentara kekaisaran menjadi tawanan perang dan konsekuensinya mereka harus ikut berperang membantu negara yang menawan mereka.
Dendam pribadi diantara Jun-Shik dan Tatsuo lambat laun mulai hilang, mereka berdua berjanji tidak akan mati sebelum  kembali ke tanah airnya masing-masing. Namun peperangan terakhir melawan Jerman ketika mereka menjadi tentara tawanan  Prancis memaksa Jun-shik  mengubur mimpinya untuk bisa kembali ke tanah airnya, sebab di peperangan kali ini dia tewas tertembak peluru pasukan Jerman. Sebelum meninggal dia menyuruh Tatsuo untuk mengganti identitasnya menjadi Jun-Shik, sebab dengan identitas Jun-Shik, Tatsuo akan bisa lolos dari tawanan Jerman untuk  bisa kembali kenegaranya.

Nilai budaya ataupun kearifan local yang ada pada film MY WAY


Salah satu hal menarik dari film My Way ini adalah semangat ala prajurit Jepang dalam bertarung melawan musuh-musuhnya, atau yang biasa disebut dengan BUSHIDO. Bushido sendiri adalah kode etik kepahlawanan samurai yang berkembang pada masa feodal Jepang (abad 12-19). Dimana pada abad-abad itu wilayah Jepang terbagi menjadi beberapa negara/wilayah bagian yang dipimpin oleh seorang tuan tanah atau  sering disebut dengan DAIMYO, sedangkan samurai itu sendiri adalah pengawal daimyo dan juga penjaga wilayah yang dikuasai oleh tuan tanahnya. Para samurai dididik untuk selalu patuh dan juga rela mati untuk menjaga kehormatan tuan tanahnya. Puncak dari zaman samurai adalah ketika kekuasaan Shogun Tokugawa, shogun sendiri adalah pemimpin dari samurai.
Bushido berasal dari dua kata, yaitu bushi yang berarti “ksatria” dan do “jalan”. Secara sederhana bushido berarti jalan yang harus ditempuh oleh seorang ksatria untuk menyempurnakan hidupnya. Makna dari bushido itu sendiri merupakan sikap rela mati untuk kaisar atau negara. Pada zaman feudal pengelompokkan terhadap masyarakat diperlakukan dengan sanagt ketat, dimana bushi/ksatria menempati posisi tertinggi sehingga sangat dihormati dan juga ditakuti oleh masyarakat,apalagi ketika Shogun Tokugawa berkuasa saat diterapkannya polotik sokaku(penutupan diri) dari dunia luar. Saat itulah bushido disusun dalam bentuk etika, diterapkan dengan ketat, dan diajarkan kepada masyarakat luas. Kode etik bushido mengendalikan setiap aspek kehidupan seorang samurai. Mereka harus mengembangkan keahlian dalam bidang menggunakan pedang atau senjata lainnya, berpakaian dan berlaku secara  khusus, tentunya berrsedia mati kapan saja untuk kaisar atau negara, itu semua dilakukan sebagai standar tinggi dalam menjalani hidup. Meski perubahan besar-besaran terjadi pada masa Meiji, ketika banyak para generasi muda dari negara sakura dikirim ke Eropa maupun Amerika untuk menimba ilmu, namun nilai-nilai semacam ini tetap melekat pada diri setiap orang Jepang sebab sudah terinternalisasi selama proses ratusan tahun.
Selain bushido,dalam film yang mengangkat alur peperangan ini, ada satu lagi nilai localwisdom dari Jepang, yaitu seppuku. Seppuku merupakan salah satu adat para samurai, terutama jenderal perang pada zaman bakufu yang merobek perut mereka dan mengeluarkan usus mereka agar dapat memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas. Seppuku lebih dikenal dengan istilah harakiri (“merobek perut”) yang juga ditulis dengan huruf kanji sebagaimana penulisan pada seppuku. Pada tradisi Jepang, istilah seppuku lebih formal. Harakiri merupakan istilah yang secara umum dikenal dalam bahasa Inggris, dan sering kali disalah-tuliskan dengan “hari kari”.
Kebanyakan orang mengetahui harakiri sebagai “cara” bunuh diri ala Jepang saja. Namun di balik pengertian umum tersebut, sebenarnya Harakiri mempunyai sejarah panjang dan makna yang dalam. Secara harfiah harakiri berasal dari dua suku kata, yakni hara dan kiri. Kata hara berarti perut dan kiri berarti potong. Harakiri disebut juga dengan seppuku. Harakiri merupakan bagian dari bushido, yaitu kode etik seorang samurai (prajurit) yang digunakan ketika kalah berperang, untuk menghindari jatuh ke tangan musuh, dan menghindari rasa malu karena kalah, serta sebagai wujud kesetiaan kepada daimsyo. Daimsyo ini merupakan sebutan tuan tanah di Jepang.
Tidak diketahui secara pasti kapan dan siapa yang melakukan Harakiri untuk pertamakalinya. Namun ada suatu kisah yang cukup menarik untuk diangkat dalam sejarah perjalanan harakiri di Jepang. Ini adalah kisah seorang samurai, Saigo Takamori, yang hidup pada zaman edo akhir mendekati era Meiji (1827-1877). Saigo Takamori adalah pemimpin pemberontakan terhadap pemerintahan. Dalam perperangan yang dikenal dengan pemberontakan setsuma, Saigo yang kalah dalam pergolakan akhirnya menghabisi hidupnya dengan cara harakiri. Metode harakiri umumnya dilakukan oleh seorang samurai dengan menancapkan pedang pada perut yang sudah diikatkan seutas kain, lalu pedang ditarik dari kiri ke kanan, seperti gerakan merobek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar